BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan landasan vital pembentuk karakter bangsa dan dapat
sebagai masa depan bangsa. Dibutuhkan manusia yang ‘sadar’ akan haknya sebagai
jiwa terdidik dengan moral serta perannya dalam kehidupan yang beradab. Sekolah sebagai insitusi (lembaga)
pendidikan, merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan, memiliki system
yang kompleks dan dinamis. Dalam kegiatannya, sekolah adalah tempat yang bukan
hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid, melainkan berada dalam satu
tatanan system yang rumit dan saling berkaitan, oleh karena itu sekolah
dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan. Lebih dari itu
kegiatan inti organisasi sekolah adalah mengelola sumber daya manusia yang
diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan tuntutan
kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu dalam pelaksanaanya untuk mencapai suatu
tujuan yang efektif danefisien suatu sekolah harus memiliki manajemen sekolah
yang baik.
Manajemen sekolah merupakan bagian dari manajemen pendidikan , atau penerapan manajemen pendidikan dalam organisasi sekolah sebagai salah satu komponen dari sistem pendidikan yang berlaku. Manajemen sekolah terbatas hanya dalam satu sekolah saja, sedangkan manajemen pendidikan meliputi seluruh komponen sistem pendidikan yang ada. Oleh karena itu, ruang lingkup dan jangkauan bidang kajian manajemen pendidikan lebih luas daripada manajemen sekolah. Kegiatan manajemen sendiri merupakan kegiatan memberdayakan sumber daya yang dimiliki sekolah dengan seefisien mungkin untuk mencapai tujuan sekolah.Pelaksanaan manajemen sekolah dimulai dari manajemen substansi pendidikan di suatu sekolah atau manajemen berbasis sekolah.
Manajemen berbasis sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada kepala sekolah, memberikan fleksibilitas/ keluwesan-keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru,siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dsb.), untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan otonomi tersebut, sekolah diberi kewenangan untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan keinginan dan tuntutan sekolah serta masyarakat.
Hal yang paling penting dalam keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah dapat dilihat dari 15 indakator keberhasilan yang dikelola dan dilaksanakan sekolah tersebut. Diantaranya yang dibahas dalam makalah ini adalah indikator 6 sampai 10, yaitu sekolah memiliki kemandirian, partisipasi warga sekolah dan masyarakat, sekolah memiliki transparansi, sekolah memiliki kemauan untuk berubah, sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.Dari uraian diatas,untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan manajemen berbasis sekolah,sehingga dilaksanakan observasi di SMP Negeri 2 Yogyakarta.
Manajemen sekolah merupakan bagian dari manajemen pendidikan , atau penerapan manajemen pendidikan dalam organisasi sekolah sebagai salah satu komponen dari sistem pendidikan yang berlaku. Manajemen sekolah terbatas hanya dalam satu sekolah saja, sedangkan manajemen pendidikan meliputi seluruh komponen sistem pendidikan yang ada. Oleh karena itu, ruang lingkup dan jangkauan bidang kajian manajemen pendidikan lebih luas daripada manajemen sekolah. Kegiatan manajemen sendiri merupakan kegiatan memberdayakan sumber daya yang dimiliki sekolah dengan seefisien mungkin untuk mencapai tujuan sekolah.Pelaksanaan manajemen sekolah dimulai dari manajemen substansi pendidikan di suatu sekolah atau manajemen berbasis sekolah.
Manajemen berbasis sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada kepala sekolah, memberikan fleksibilitas/ keluwesan-keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru,siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dsb.), untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan otonomi tersebut, sekolah diberi kewenangan untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan keinginan dan tuntutan sekolah serta masyarakat.
Hal yang paling penting dalam keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah dapat dilihat dari 15 indakator keberhasilan yang dikelola dan dilaksanakan sekolah tersebut. Diantaranya yang dibahas dalam makalah ini adalah indikator 6 sampai 10, yaitu sekolah memiliki kemandirian, partisipasi warga sekolah dan masyarakat, sekolah memiliki transparansi, sekolah memiliki kemauan untuk berubah, sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.Dari uraian diatas,untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan manajemen berbasis sekolah,sehingga dilaksanakan observasi di SMP Negeri 2 Yogyakarta.
B.
RumusanMasalah
1. Apa
pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)?
2. Bagaimana
pelaksanaan indikator keberhasilan 6-10 Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP
N 2 Yogyakarta?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
2. Untuk
mengetahui pelaksanaan indikator keberhasilan 6-10 Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) di SMP N 2 Yogyakarta.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Managemen Berbasis Sekolah
Istilah
manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”.
Menegamen Berbasis Sekolah merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan
otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan masyarakat) dalam kerangka
kebijakan pendidikan nasional. Menurut Edmond merupakan alternatif baru dalam
pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas
sekolah. Nurcholis mengatakan Manajemen berbasis sekolah (MBS) adalah bentuk
alternatif sekolah sebagai hasil dari desentralisasi pendidikan.
Secara umum,
manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai
model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan
mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung
semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa,
dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan
pendidikan nasional. Lebih lanjut istilah manajemen sekolah acapkali
disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan itu,
terdapat tiga pandangan berbeda; pertama, mengartikan administrasi lebih luas
dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua,
melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi (administrasi merupakan
inti dari manajemen); dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan
administrasi. Dalam hal ini, istilah manajemen diartikan sama dengan istilah
administrasi atau pengelolaan, yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan
sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna
menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. Pengertian
manajemen menurut Hasibuan merupakan ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan
sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk
mencapai tujuan tertentu. Definisi manajemen tersebut menjelaskan pada kita
bahwa untuk mencapai tujuan tertentu, maka kita tidak bergerak sendiri, tetapi
membutuhkan orang lain untuk bekerja sama dengan baik.
Berdasarkan
fungsi pokoknya, istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama,
yaitu: merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), mengarahkan
(directing), mengkoordinasikan (coordinating), mengawasi (controlling), dan
mengevaluasi (evaluation).
B. Penjelasan
dan Pelaksanaan Indikator Keberhasilan 6-10
Secara umum, berikut ini adalah Indikator keberhasilan
implementasi Manemen Berbasis Sekolah (MBS).
6. Sekolah
Memilik Kemandirian
Sekolah
memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya, sehingga
dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu
menggantungkan pada atasan. Untuk menjadi mandiri, sekolah harus memiliki
sumber daya yang cukup untuk menjalankan tugasnya.
Dalam
penerapan Manejemen Berbasis Sekolah, SMP Negeri 2 Yogyakarta memiliki
kebebasan untuk melaksanakan aktifitas sesuai kewenangan sendiri namun
kebebasan tersebut terbatas ( kebebasan dibatasi oleh aturan-aturan) sehingga
dalam mengatur kebijakan sekolah tidak boleh keluar dari aturan tersebut.
Contohnya dalam hal waktu, misalkan kalau pemerintah memberikan perintah
saatnya libur sekolah harus ikut libur, begitu juga dengan ujian. Termasuk
dalam manajemen keuangan, sekolah mendapatkan sumber dana keuangan dari pemerintah maka penggunaan dana
tersebut dibatasi SSHBJ ( Standar Satuan Harga Barang dan Jasa), misalkan untuk
membayar honor guru ekstrakulikuler harus sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan. Implementasi kemandirian
sekolah, sekolah melakukan inovasi sendiri dan kegiatan inovasi tersebut
menyangkut dengan adanya susunan anggaran, seluruh anggaran yang di rencanakan, selama tidak menyimpang dari anggaran
maka inovasi
tersebut dapat di lakukan.
Dalam hal ini peran Kepala sekolah menyetujui susunan rancangan anggaran,
sehingga keberadaan kepala sekolah sangat dibutuhkan.
7.
Partisipasi Warga Sekolah dan Masyarakat
Sekolah yang
menerapkan Manajemen berbasis Sekolah memiliki karakteristik partisipasi
sekolah dan masyarakat yang tinggi. Hal ini di landasi keyakinan bahwa makin
tinggi tingkat partisipasi, makin besar pula rasa tanggung jawab, dan makin
besar rasa tanggung jawab makin besar pula tingkat didikasinya.
Partisipasi
masyarakat di SMP Negeri 2 Yogyakarta dapat dilihat dari keberadaan komite sekolah
yang terdiri dari tiga unsur yaitu dari tokoh
masyarakat yang dipilih , orang tua siswa, dan pakar. Keterlibatan komite sekolah hanya dalam hal tertentu saja, apabila di luar
kegiatan sekolah komite sekolah hanya memberikan masukan, contohnya dalam hal
anggaran yang mengesahkan itu salah satunya dari komite sekolah sehingga komite
sekolah harus tahu kegiatan apa yang dilakukan oleh sekolah. Siswa juga
berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan sekolah, banyak hal yang kemudian sekolah meminta masukan
kepada siswa seperti dalam pembuatan
tata tertib sekolah. Masukan dari siswa tersebut disampaikan melalui
organisasi-organisasi yang ada di SMP Negeri 2 Yogyakarta.
8.
Sekolah Memiliki Ttransparansi
Keterbukaan/transparansi
dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan
Manajemen Berbasis Sekolah. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukan dalam
pengambilan keputusan, penggunaan uang, dan sebagainya, yang selalu melibatkan
pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol.
Transparansi
atau keterbukaan sekolah SMP Negeri dilihat
dari pengambilan kebijakan dan penggunakan uang tidak hanya di ketahui oleh
pihak-pihat terkait yaitu managerial (Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah,
Kepala Tata Usaha dan Bendara) tetapi pihak yang tidak terkait harus tahu misal
guru dan karyawan. Sekolah pasti melaporkan kegiatan dan program-program yang
di laksanakan kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Dalam pelaksanaan kualitas
sekolah seluruh sumber daya manusia di sekolah saling terbuka satu sama lain,
sekolah merangkul mulai dari cleaning service, guru senior, guru sampai dari
kepala sekolah dalam intregasi proses, masing-masing pihak melakukan tugas dan
tanggungnya dan secara pemikiran meraka paham bahwa itu merupakan suatu kerja
yang besar untuk meningkatkan kualitas sekolah.
9.
Sekolah Memiliki Kemauan Untuk Berubah (Psikologis dan
Fisik)
Perubahan
harus merupakan “kenikmatan” bagi semua warga sekolah. Sebaliknya, kondisi
statis merupakan musuh sekolah. Tentu saja yang dimaksud dengan perubahan
adalah adanya peningkatan yang bermakna positif. Artinya, setiap perubahan yang
dilakukan, hasilnya diharapkan bisa lebih baik dibanding dengan kondisi sebelumnya
(ada peningkatan) terutama dalam mutu peserta didik.
SMP
Negeri 2 Yogyakarta dalam mengantisipasi kebutuhan masyarakat yang selalu berkembang harus mengikuti dua dimensi yaitu kebijakan
dari atas dan kebutuhan masyarakat di lapangan. Sekolah harus benar-benar bisa
mengkombinasi dua dimensi tersebut. Situasi masyarakat saat ini masuk
dalam lost generation misalnya di sekolah siswa asik dengan
gadgetnya, siswa asik dengan dirinya sendiri sehingga siswa tidak peka terhadap
lingkungan. Mengatasi hal tersebut sekolah mengundang orang tua siswa
untuk mendiskusikan keadaan siswa.
Sekolah juga mengupayakan adanya perwakilan atau komite kelas untuk mengampung
aspirasi dari masyarakat.
10.
Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara
Berkelanjutan
Evaluasi belajar
secara teratur bukan hanya ditunjukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan
kemampuan peserta didik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan
hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses
pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, fungsi evaluasi menjadi sangat
penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara
terus menerus.
Perbaikan
secara terus menerus harus merupakan kebiasaan warga sekolah. Tiada hari tanpa
perbaikan. Karena itu, sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus
ada. Sistem mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi, tanggung
jawab, prosedur dan sumber daya untuk menerapkan manajemen mutu. SMP Negeri 2 Yogyakarta sejauh ini selalu melakukan evaluasi
dan perbaikan secara berkelanjutkan. Bentuk evaluasi yang dilakukan sekolah
adalah evaluasi desidental dan berkala, sekolah selalu memotret perjalan
perminggunya, dan sekolah mengevaluasi kebijakan dan program-program dalam satu
semester dalam rapat kerja. Bentuk perbaikan tenaga pengajar sekolah melakukan
pembinaan guru dengan intesif setiap senin sore, sekolah meniadakan kegiatan
ekstrakulikules yang melibatkan guru dan sebagainya untuk workshop mengenai kurikulum, PTK
dan pengelolaan kelas.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sekolah
merupakan suatu organisasi yang diharapkan
dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas sesuai dengan tuntutan kebutuhan
masyarakat. Dan untuk mencapai suatu tujuan yang efektif danefisien suatu sekolah membutuhkan manajemen pengelolaan. Manajemen Berbasis Sekolah merupakan bagian dari penerapan manajemen pendidikan
dalam pengelolaan organisasi sekolah. Manajemen Berbasis
Sekolah memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan
mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung
semua warga sekolah. Wawancara
yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa SMP Negeri 2 Yogyakarta dalam
mengelola kebijakan-kebijakan dan program sekolah sudah melaksanakan manajemen
berbasis sekolah dengan baik, hal itu dapat dilihat dari indikator keberhasilan
6-10 manajamen berbasis sekolah yang sudah diterapkan sejauh ini.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar