Kamis, 22 Desember 2016

UAS Manajemen

A.  Managemen Berbasisis Sekolah (MBS)
Indikator Keberhasilan Managemen Berbasis Sekolah (MBS).
1.      Orientasi ke arah efektivitas proses pembelajaran
Ø  Apakah sekolah ini sudah menerapkan efektivitas dalam proses pembelajaran manajemen berbasis sekolah?
Ø  Apakah sekolah ini sudah menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk proses pembelajaran?
2.      Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat
Ø Apakah kepala sekolah sudah berperan aktif dalam mengkoordinasikan, menggerakan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan di sekolah ini?
Ø Apakah kepala sekolah sudah memuwujudakan visi, misi dan tujuan dalam sekolah ?dalam bentuk bagaimana?
3.      Pengelolaaan tenaga pendidik dan kependidikan yang baik
Ø Apakah sekolah ini memiliki program untuk meningkatkan prestasi dan pembinaan bagi tenaga pendidik guru?
Ø Apakah di sekolah ini ada evaluasi kerja terhadap tenaga pendidik dan kependidikan?
4.      Sekolah memiliki budaya mutu
Ø Apakah sekolah ini ada peraturan ?Bagaimana peraturan yang ada dan jika ada yang melanggar apakah ada sanksinya?
5.       “Teamwork” sekolah yang kuat , kompak, cerdas, dan dinamis
Ø Apakah dalam sekolah ini sudah menciptakan budaya kerjasama antar warga sekolah?wujud kerjasama seperti apa?
6.      Sekolah memiliki kemandirian
Ø Apakah sekolah ini sudah menerapkan kemandirian dalam manajemen berbasis sekolah?
Ø Bagaimana kepala sekolah mewujudkan kemandidrian dalam sekolah ini?
7.      Partisipasi warga sekolah dan masyarakat
Ø Bagaimana partisipasi warga sekolah dengan masyarakat dalam sekolah ini?
Ø Apabila warga sekolah ada kegiatan dengan masyarakat, apakah semua warga sekolah terlibat dalam kegiatan tersebut?
8.      Sekolah menmiliki transparansi
Ø Apakah sekolah ini sudah menerapkan keterbukaaan atau transparansi terkait penggunaan anggaran, pengambilan keputusan dan yang lainya?
Ø Apakah dalam pengambilan keputusan sekolah ini melibatkan pihak-pihat terkait sebagai alat control?
Ø Dalam penggunaan anggaran, apakah hanya pihak-pihak tertentu saja yang mengetahuinya ?
9.      Kemauan sekolah untuk berubah (psikologis dan fisik)
Ø Bagaimana cara sekolah mengikuti perubahan yang sudah terjadi di masyarakat kita sekarang ini?
10.  Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan
Ø Apakah seolah ini sudah melakukan evaluasi secara berkelanjutan rutin terhadap hasil pembelajaran terhadap siswa?
Ø Bagaimana peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu dalam sekolah ini?
11.  Responsive dan antisipasif terhadap kebutuhan
Ø  Bagaimana peran kepala sekolah terhadap baspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu?
Ø  Apakah cara sekoalah dalam menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan sekarang ini?Bagaimana respon orang tua siswa?
12.  Akuntabilitasn sekolah
Ø Apakah sekolah ini sudah memliki akuntabilitas dalam program-program yang ada di sekolah ini?bentuknya seperti apa?
Ø Bagaimana peran pemerintah terrhadap sekolah ini dalam pelaksanaan managemen berbasis sekolah?Apakah juga melibatkan orang tua siswa?
13.  Output adalah prestasi sekolah
Ø  Bagaimana peran sekolah dalam menghasilkan ouput yang berprestasi setelah lulus dari sekolah ini?
14.  Penekanaan angka drop out
Ø  Bagaimana sekolah ini dalam menangulangi angka drop out terhadap siswa?
Ø  Bagaimana tanggapan orang tua kepada anak didik yang kena drop out?
15.  Kepuasan staf
Ø  Apakah warga sekolah ini sudah menyadari dengan tugasnya masing-masing ?
Ø  Bagaimana peran aktif kepala sekolah dalam memberikan kewenangan terhadap stafnya?

Sabtu, 10 Desember 2016

Tugas Manajemen Berbasis Sekolah


BAB I
PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan landasan vital pembentuk karakter bangsa dan dapat sebagai masa depan bangsa. Dibutuhkan manusia yang ‘sadar’ akan haknya sebagai jiwa terdidik dengan moral serta perannya dalam kehidupan yang beradab. Sekolah sebagai insitusi (lembaga) pendidikan, merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan, memiliki system yang kompleks dan dinamis. Dalam kegiatannya, sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid, melainkan berada dalam satu tatanan system yang rumit dan saling berkaitan, oleh karena itu sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan. Lebih dari itu kegiatan inti organisasi sekolah adalah mengelola sumber daya manusia yang diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu dalam pelaksanaanya untuk mencapai suatu tujuan yang efektif danefisien suatu sekolah harus memiliki manajemen sekolah yang baik. 

Manajemen sekolah merupakan bagian dari manajemen pendidikan , atau penerapan manajemen pendidikan dalam organisasi sekolah sebagai salah satu komponen dari sistem pendidikan yang berlaku. Manajemen sekolah terbatas hanya dalam satu sekolah saja, sedangkan manajemen pendidikan meliputi seluruh komponen sistem pendidikan yang ada. Oleh karena itu, ruang lingkup dan jangkauan bidang kajian manajemen pendidikan lebih luas daripada manajemen sekolah. Kegiatan manajemen sendiri merupakan kegiatan memberdayakan sumber daya yang dimiliki sekolah dengan seefisien mungkin untuk mencapai tujuan sekolah.Pelaksanaan manajemen sekolah dimulai dari manajemen substansi pendidikan di suatu sekolah atau manajemen berbasis sekolah.

Manajemen berbasis sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada kepala sekolah, memberikan fleksibilitas/ keluwesan-keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru,siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dsb.), untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan otonomi tersebut, sekolah diberi kewenangan untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan keinginan dan tuntutan sekolah serta masyarakat.
Hal yang paling penting dalam keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah dapat dilihat dari 15 indakator keberhasilan yang dikelola dan dilaksanakan sekolah tersebut. Diantaranya yang dibahas dalam makalah ini adalah indikator 6 sampai 10, yaitu sekolah memiliki kemandirian, partisipasi warga sekolah dan masyarakat, sekolah memiliki transparansi, sekolah memiliki kemauan untuk berubah, sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.Dari uraian diatas,untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan manajemen berbasis  sekolah,sehingga dilaksanakan observasi di SMP Negeri 2 Yogyakarta.

B.     RumusanMasalah
1.      Apa pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)?
2.      Bagaimana pelaksanaan indikator keberhasilan 6-10 Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP N 2 Yogyakarta?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
2.      Untuk mengetahui pelaksanaan indikator keberhasilan 6-10 Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP N 2 Yogyakarta.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Managemen  Berbasis Sekolah
Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. Menegamen Berbasis Sekolah merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Menurut Edmond merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Nurcholis mengatakan Manajemen berbasis sekolah (MBS) adalah bentuk alternatif sekolah sebagai hasil dari desentralisasi pendidikan.
Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa, dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Lebih lanjut istilah manajemen sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan berbeda; pertama, mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi (administrasi merupakan inti dari manajemen); dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. Dalam hal ini, istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan, yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. Pengertian manajemen menurut Hasibuan merupakan ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi manajemen tersebut menjelaskan pada kita bahwa untuk mencapai tujuan tertentu, maka kita tidak bergerak sendiri, tetapi membutuhkan orang lain untuk bekerja sama dengan baik.
Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, yaitu: merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), mengarahkan (directing), mengkoordinasikan (coordinating), mengawasi (controlling), dan mengevaluasi (evaluation).
B.     Penjelasan dan Pelaksanaan Indikator Keberhasilan 6-10
Secara umum, berikut ini adalah Indikator keberhasilan implementasi Manemen Berbasis Sekolah (MBS).
6. Sekolah Memilik Kemandirian
Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya, sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. Untuk menjadi mandiri, sekolah harus memiliki sumber daya yang cukup untuk menjalankan tugasnya.
Dalam penerapan Manejemen Berbasis Sekolah, SMP Negeri 2 Yogyakarta memiliki kebebasan untuk melaksanakan aktifitas sesuai kewenangan sendiri namun kebebasan tersebut terbatas ( kebebasan dibatasi oleh aturan-aturan) sehingga dalam mengatur kebijakan sekolah tidak boleh keluar dari aturan tersebut. Contohnya dalam hal waktu, misalkan kalau pemerintah memberikan perintah saatnya libur sekolah harus ikut libur, begitu juga dengan ujian. Termasuk dalam manajemen keuangan, sekolah mendapatkan sumber dana  keuangan dari pemerintah maka penggunaan dana tersebut dibatasi SSHBJ ( Standar Satuan Harga Barang dan Jasa), misalkan untuk membayar honor guru ekstrakulikuler harus sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan. Implementasi kemandirian sekolah, sekolah melakukan inovasi sendiri dan kegiatan inovasi tersebut menyangkut dengan adanya susunan anggaran, seluruh anggaran yang di rencanakan, selama tidak menyimpang dari anggaran maka inovasi tersebut dapat di lakukan. Dalam hal ini peran Kepala sekolah menyetujui susunan rancangan anggaran, sehingga keberadaan kepala sekolah sangat dibutuhkan.
7.         Partisipasi Warga Sekolah dan Masyarakat
Sekolah yang menerapkan Manajemen berbasis Sekolah memiliki karakteristik partisipasi sekolah dan masyarakat yang tinggi. Hal ini di landasi keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi, makin besar pula rasa tanggung jawab, dan makin besar rasa tanggung jawab makin besar pula tingkat didikasinya.
Partisipasi masyarakat di SMP Negeri 2 Yogyakarta dapat dilihat dari keberadaan komite sekolah yang  terdiri dari tiga unsur yaitu dari tokoh masyarakat yang dipilih , orang tua siswa, dan pakar.  Keterlibatan komite sekolah hanya  dalam hal tertentu saja, apabila di luar kegiatan sekolah komite sekolah hanya memberikan masukan, contohnya dalam hal anggaran yang mengesahkan itu salah satunya dari komite sekolah sehingga komite sekolah harus tahu kegiatan apa yang dilakukan oleh sekolah. Siswa juga berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan sekolah, banyak hal yang kemudian sekolah meminta masukan kepada siswa seperti dalam pembuatan tata tertib sekolah. Masukan dari siswa tersebut disampaikan melalui organisasi-organisasi yang ada di SMP Negeri 2 Yogyakarta.
8.         Sekolah Memiliki Ttransparansi
Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukan dalam pengambilan keputusan, penggunaan uang, dan sebagainya, yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol.
Transparansi atau keterbukaan  sekolah SMP Negeri dilihat dari pengambilan kebijakan dan penggunakan uang tidak hanya di ketahui oleh pihak-pihat terkait yaitu managerial (Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Kepala Tata Usaha dan Bendara) tetapi pihak yang tidak terkait harus tahu misal guru dan karyawan. Sekolah pasti melaporkan kegiatan dan program-program yang di laksanakan kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Dalam pelaksanaan kualitas sekolah seluruh sumber daya manusia di sekolah saling terbuka satu sama lain, sekolah merangkul mulai dari cleaning service, guru senior, guru sampai dari kepala sekolah dalam intregasi proses, masing-masing pihak melakukan tugas dan tanggungnya dan secara pemikiran meraka paham bahwa itu merupakan suatu kerja yang besar untuk meningkatkan kualitas sekolah.
9.             Sekolah Memiliki Kemauan Untuk Berubah (Psikologis dan Fisik)
Perubahan harus merupakan “kenikmatan” bagi semua warga sekolah. Sebaliknya, kondisi statis merupakan musuh sekolah. Tentu saja yang dimaksud dengan perubahan adalah adanya peningkatan yang bermakna positif. Artinya, setiap perubahan yang dilakukan, hasilnya diharapkan bisa lebih baik dibanding dengan kondisi sebelumnya (ada peningkatan) terutama dalam mutu peserta didik.
SMP Negeri 2 Yogyakarta dalam mengantisipasi kebutuhan masyarakat yang selalu berkembang  harus mengikuti dua dimensi yaitu kebijakan dari atas dan kebutuhan masyarakat di lapangan. Sekolah harus benar-benar bisa mengkombinasi dua dimensi tersebut. Situasi masyarakat saat ini masuk dalam  lost generation misalnya di sekolah siswa asik dengan gadgetnya, siswa asik dengan dirinya sendiri sehingga siswa tidak peka terhadap lingkungan. Mengatasi hal tersebut sekolah mengundang orang tua siswa untuk mendiskusikan keadaan siswa. Sekolah juga mengupayakan adanya perwakilan atau komite kelas untuk mengampung aspirasi dari masyarakat.
10.         Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan
Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditunjukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara terus menerus.
Perbaikan secara terus menerus harus merupakan kebiasaan warga sekolah. Tiada hari tanpa perbaikan. Karena itu, sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus ada. Sistem mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi, tanggung jawab, prosedur dan sumber daya untuk menerapkan manajemen mutu. SMP Negeri 2 Yogyakarta sejauh ini selalu melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutkan. Bentuk evaluasi yang dilakukan sekolah adalah evaluasi desidental dan berkala, sekolah selalu memotret perjalan perminggunya, dan sekolah mengevaluasi kebijakan dan program-program dalam satu semester dalam rapat kerja. Bentuk perbaikan tenaga pengajar sekolah melakukan pembinaan guru dengan intesif setiap senin sore, sekolah meniadakan kegiatan ekstrakulikules yang melibatkan guru dan sebagainya untuk  workshop mengenai kurikulum, PTK dan pengelolaan kelas.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sekolah merupakan suatu organisasi yang diharapkan dapat menghasilkan  sumber daya manusia berkualitas sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Dan untuk mencapai suatu tujuan yang efektif danefisien suatu sekolah membutuhkan manajemen pengelolaan. Manajemen Berbasis Sekolah merupakan bagian dari penerapan manajemen pendidikan dalam pengelolaan organisasi sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah. Wawancara yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa SMP Negeri 2 Yogyakarta dalam mengelola kebijakan-kebijakan dan program sekolah sudah melaksanakan manajemen berbasis sekolah dengan baik, hal itu dapat dilihat dari indikator keberhasilan 6-10 manajamen berbasis sekolah yang sudah diterapkan sejauh ini.







DAFTAR PUSTAKA